Bintan – Paradigma yang berkembang di masyarakat terhadap Matematika adalah subjek yang diajarkan dan dipelajari di sekolah yang masih menjadi hal menakutkan dan susah untuk dipelajari. Paradigma inilah yang diupayakan untuk diubah oleh sekelompok dosen dari Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Maritim Raja Ali Haji melalui kegiatan pengabdian masyarakat di SD Negeri 001 Toapaya Kabupaten Bintan, pada hari Sabtu, 7 Oktober 2017. Kegiatan yang melibatkan peran serta sejumlah mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP UMRAH ini dihadiri sejumlah guru dari 6 sekolah dasar dari gugus 1 Toapaya yang mengikuti kegiatan pengabdian bergaya seminar dengan tema “Etnomatematika dan Potensinya dalam Pembelajaran Matematika”.

Ide dasar etnomatematika diperkenalkan oleh seorang tokoh asal Brazil, D’Ambrosio yang medefinisikan etnomatematika sebagai Matematika yang tumbuh dan berkembang secara informal dalam aspek-aspek kehidupan masyarakat dengan budaya tertentu. Aspek-aspek kehidupan digolongkan menjadi beberapa domain aktifitas seperti menghitung, mengukur, mendesain, bermain, menjelaskan dan sebagainya. Dalam pemaparannya, Febrian, salah seorang dosen yang mewakili kelompok pengabdian ini memberikan contoh etnomatematika pada layang-layang Wau Kabupaten Lingga hasil studi etnografi dengan pelibatan seorang mahasiswa sebagai pengumpul data. Hasil penelitian mengungkap bahwa dalam pembuatan kerangka layang-layang, Andak Sadat, tokoh setempat menggunakan ukuran panjang tertentu pada setiap bilah bambu penyusun rangka yang memuat beberapa konsep matematika seperti pengukuran, proporsi dan rasio dimensi panjang setiap rangka-rangka penyusunnya. Hal ini menggambarkan bahwa Matematika telah dikuasai dan secara tidak sadar dikembangkan oleh warga setempat dalam aktifitas mendesain layangan yang merupakan produk kebudayaan.

Pemateri menegaskan bahwa pengungkapan aspek matematis dalam aktifitas kegiatan warga telah menggambarkan adanya intelektualitas yang laten dalam masyarakat khususnya di Kabupaten Lingga mengingat bahwa layang-layang Wau merupakan sebuah produk kebudayaan yang setiap tahunnya diperlombakan sehingga sangat identik dengan kehidupan warga.

Terkait dengan profesi keguruan, peserta dibawa untuk memikirkan apa kelanjutan dari mengetahui bahwa dibalik aktifitas masyarakat yang mengandung Matematika. Jika ditinjau dari matematika yang ada dibaliknya, maka produk kebudayaan dapat dijadikan konteks pembelajaran. Layang-layang Wau misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai konteks sekaligus media pembelajaran untuk memperkenalkan siswa sekolah pada konsep pengukuran panjang, perbandingan panjang, dan perbandingan bilang-bilangan (proporsi dan rasio). Tidak hanya itu pemateri juga membawa peserta untuk mengenal beberapa keungkinan keberadaan matematika dibalik produk budaya seperti motif tenun melayu Kepri, bangunan masjid penyengat, dan lain sebaginya. Akhirnya pemateri menutup sajiannya dengan menegaskan bahwa konsep etnomatematika tidak hanya memiliki potensi besar dalam dunia pendidikan tapi juga sebagai suatu upaya untuk mengangkat profil budaya atau warga setempat melalui Matematika (cindy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here