UP2TP FKIP UMRAH Dorong Inovasi Pembelajaran melalui Eksplorasi Matematika dalam Motif Batik

Tanjungpinang, 3 September 2026 — Unit Pengelola Pengembangan Teknologi Pendidikan (UP2TP) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menyelenggarakan kegiatan bertema “EduAction for SDGs: Belajar, Berinovasi, Menginspirasi untuk Membangun Generasi Maritim Berkelanjutan.” Kegiatan ini menjadi ruang pengembangan wawasan dan inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan, budaya lokal, teknologi digital, serta nilai-nilai pembangunan berkelanjutan. Kegiatan ini diikuti oleh guru dan perwakilan siswa dari berbagai sekolah di wilayah Tanjungpinang dan Bintan, yang menjadi bagian penting dalam proses berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai inovasi pembelajaran
Salah satu materi yang menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut adalah “Matematika di Balik Motif Batik: Eksplorasi Geometri Fraktal, Budaya Lokal, Teknologi Digital, dan Pendidikan Berkelanjutan” yang disampaikan oleh Dr. Rezky Ramadhona, S.Pd., M.Pd. Materi tersebut menghadirkan perspektif bahwa matematika tidak semata-mata berkaitan dengan angka dan rumus, tetapi juga dapat ditemukan dalam pola, bentuk, keteraturan, dan aktivitas budaya yang berkembang di masyarakat.

Dalam pemaparannya, matematika diperkenalkan sebagai ilmu tentang pola. Motif batik menjadi salah satu contoh konkret bagaimana konsep matematis hadir dalam sebuah karya budaya. Berbagai unsur dalam motif dapat dikaitkan dengan konsep pengulangan, rotasi, refleksi, translasi, dilatasi, serta keseimbangan. Proses tersebut menunjukkan bahwa pembentukan suatu pola dapat mengandung prinsip-prinsip matematis meskipun dalam praktiknya pembatik tidak harus terlebih dahulu menuliskan atau menggunakan rumus matematika secara formal.
Pendekatan tersebut memberikan pemahaman bahwa pembelajaran matematika dapat dikembangkan melalui konteks budaya yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Dengan demikian, konsep yang selama ini dipandang abstrak dapat dikaji melalui objek nyata dan memiliki keterkaitan dengan lingkungan sosial maupun budaya.


Pada kegiatan tersebut, dua mahasiswa, Ice Fitriyanti dan Grace Helena Simbolon, turut memberikan penjelasan mengenai penggunaan GeoGebra dalam proses pengembangan motif batik. Pemanfaatan GeoGebra menjadi salah satu bentuk integrasi teknologi digital dalam pembelajaran matematika untuk membantu memvisualisasikan konsep geometri dan transformasi dalam pembentukan pola batik. Melalui penggunaan teknologi tersebut, konsep matematika dapat dipadukan dengan kreativitas dalam menghasilkan motif yang lebih kompleks dan bermakna.
Konteks kemaritiman juga menjadi bagian penting dalam pengembangan pembelajaran yang dihadirkan melalui kegiatan ini. Pemanfaatan motif Gonggong sebagai salah satu representasi budaya maritim Kepulauan Riau menunjukkan bahwa potensi lokal dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran matematika dan teknologi. Pendekatan tersebut tidak hanya memperkenalkan konsep matematis melalui budaya yang dekat dengan lingkungan peserta didik, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran terhadap identitas dan kekayaan budaya maritim. Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi sarana untuk menghubungkan pengetahuan, kreativitas, teknologi, dan potensi lokal dalam mempersiapkan generasi yang memiliki wawasan kemaritiman serta mampu berinovasi secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan “EduAction for SDGs: Belajar, Berinovasi, Menginspirasi untuk Membangun Generasi Maritim Berkelanjutan”, UP2TP FKIP UMRAH menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dapat dikembangkan secara kontekstual melalui keterpaduan matematika, budaya lokal, dan teknologi digital. Eksplorasi matematika dalam motif batik tidak hanya memperkuat pemahaman terhadap konsep geometri, tetapi juga menumbuhkan kreativitas, apresiasi terhadap budaya, serta kemampuan memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong terwujudnya pendidikan yang inovatif dan berkelanjutan serta mendukung terbentuknya generasi maritim yang kreatif, adaptif, dan berwawasan budaya.
